02
Nov
09

hutan baluran,” situbondo “

Menginjakkan kaki di kawasan Taman Nasional Baluran, akan sangat berbeda ketika kita memasukinya saat musim hujan atau setelah musim hujan. Bau rumput, tanah dan pohon yang lembab menyesakkan paru2. Apalagi jika menjelang pagi, bau kemanggi hutan dan simbukkan amat dominan. Ditambah sayup sayup suara kucing hutan, alap-alap, merak dan ayam hutan menyambut pagi.

Yang agak berbeda adalah pada saat ini, setelah diguyur hujan dimana rumput padang savanna telah menghijau dan hutan di Gunung Baluran kembali lebat. Kita bisa dipastikan akan sangat sukar menemui kawanan rusa yang biasanya merumput di padang savanna tersebut. Saat ini (Maret 2009) memang saat dimana kawanan rusa tersebut sedang membesarkan anak-anaknya. Biasanya mereka masuk ke hutan lebih dalam untuk menghindari predator. Memang tinggi rumput liar dan gulma di padang savanna ini bisa mencapai 1,5-1,7 meter, sangat masuk akal kemungkinan ada predator yang mengincar anak-anak rusa tersebut dari balik rimbunan semak.

Di sekitar evergreen forest juga tidak ditemui lagi kera abu-abu (beruk) dan lutung (owa) jawa, seperti hewan lainnya mereka masuk ke dalam hutan. Ayam hutan, merak dan berbagai jenis burung masih banyak di jumpai. Kera abu-abu bisa dijumpai di hutan Pantai Bama, sedangkan lutung masih bisa ditemui di kawasan hutan mangrove Pantai Bama,. Di hutan mangrove ini juga sering terlihat biawak, rangkong dan berbagai jenis unggas lainnya.

 

 

Yang perlu diperhatikan (dan sebenarnya) sangat memprihatinkan adalah perkembangan pohon akasia di musim hujan ini. Akasia yang bukan penghuni asli TN Baluran pada saat musim kemarau masih bisa tumbuh dan bertunas, perkembangannya akan jauh lebih pesat lagi pada saat musim hujan. Pohon akasia dengan alkaloid-nya bisa mematikan rumput yang tumbuh di bawah dan sekitarnya. Pohon yang tadinya didatangkan dari Afrika utk memagari dan melokalisir kebakaran hutan di padang savanna justru malah mematikan padang savanna tersebut dengan tumbuh mendominasinya. Perkembangan akasia saat ini diperkirakan hampir 70 % mendominasi vegetasi di padang rumput savanna Bekol.

 

 

 

Mengingatkan kembali bagi para pengunjung yang ingin menikmati suasana TN Baluran yang ‘lebih hidup’ dengan alam dan satwa liarnya sebaiknya datang pagi sekali. Perlu diketahui bahwa kawasan taman nasional yang letaknya di ujung timur pulau jawa ini dan berbatasan dengan perairan Selat Bali. Sehingga waktu setempat akan dipengaruhi dengan Waktu Indonesia Bagian Tengah yang selisihnya lebih maju hampir satu jam dengan Waktu Indonesia Bagian Barat (WIB). Jadi tidak heran kalau jam 5 pagi disini sudah terang benderang. Jika tidak bisa mendatangi lebih pagi, cobalah menginap di cottage dan pavillun di TN Baluran. Menikmati malam dan pagi disini tentunya akan jauh lebih berkesan dibandingkan bermalam di tempat sekelas Taman Safari pun. Tentu karena suasananya yang lebih alami. Selamat menikmati !

Iklan

0 Responses to “hutan baluran,” situbondo “”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s


Blog Stats

  • 118.602 hits

Komentar Terbaru

banxit23 di arema,…. cinta tiada…
November 2009
M S S R K J S
« Okt   Des »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  
Iklan

%d blogger menyukai ini: