Arsip untuk Kategori 'seputar situbondo'

28
Sep
10

Persiapan Mental Siswa SMA menyongsong Ujian Nasional

Persiapan Mental Siswa SMA menyongsong Ujian Nasional

March 20, 2010 by admin
Filed under Uncategorized

Jam Pelajaran Ditambah, Siswa Gelar Doa Bersama

Menjelang pelaksanaan ujian nasional (Unas), kesibukan siswa meningkat drastis. Utamanya para siswa kelas III yang akan mengikuti tes penentuan lulus-tidaknya dari sekolah. Tak cukup hanya menambah jam pelajaran. Para siswa juga mulai

istiqomah

menyampaikan “permohonan” ingin lulus Unas.

MALAM

itu, ratusan siswa duduk bersimpuh di halaman di Kota Situbondo. Dibelah kain panjang, mereka saling menjaga kekhusukan. Pelajar putri yang berseragam mukena putih berbaris di sisi utara. Sementara itu, para siswa laki-laki berkumpul di bagian selatan. Bacaan-bacaan doa para siswa itu terus membahana ke sekeliling sekolah. Sesekali suara isak tangis terdengar di tengah-tengah

dzikir

yang mengalir itu.

Bukan hanya siswa. Sejumlah guru dan perwakilan komite sekolah juga ikut dalam kegiatan tersebut. Mereka berbaur dalam kekhusukan bersama para siswa demi satu permohonan, yakni lulus. Demikianlah salah satu potret persiapan para siswa di Situbondo dalam menghadapi Unas mendatang. Tak hanya mengandalkan tambahan jam pelajaran, sekolah juga memfasilitasi para siswa berdoa bersama.

Doa bersama atau yang lebih dikenal dengan istilah

istighotsah

itu bukan hanya dilakukan di sekolah pinggiran. Sejumlah sekolah favorit di tengah-tengah Kota Santri juga melaksanakan doa bersama untuk menyambut Unas. Salah satunya, SMAN 1 Situbondo. Hampir tiap malam, sekolah yang beralamat di pinggir Jalan P.B. Soedirman itu mengajak siswanya

bermunajat.

“Mulai dari kasek, guru, sampai komite sekolah, semua ikut dalam kegiatan ini. Kami bersama-sama memohonkan kelulusan para siswa,” kata guru agama SMAN setempat, Habib Muhammad Abu Bakar, kepada

RaBa

Jumat malam (19/3).

Pantauan koran ini menyebutkan, beberapa pelajar tampak terharu selama mengikuti doa bersama. Lewat bacaan-bacaan

dzikir

, tidak sedikit siswa dan guru yang berlinang air mata. Sembari sesenggukan, mereka terus menengadahkan kedua tangannya ke atas. Mereka meminta kemudahan dalam mengikuti Unas dan diberi kelulusan. “Kami juga meminta kepada wali murid agar mendorong putra-putrinya lebih rajin belajar dan berdoa,” tutur Wakasek Kesiswaan Mohamad Anwar.

Sementara itu, permohonan lebih ekstrim dilakukan siswa Madrasah Aliyah (MA) dan Madrasah Tsanawiyah (MTs) Nurul Huda, Desa Paowan, Kecamatan Panarukan. Sebab, doa bersama tidak dilakukan di ruangan kelas, halaman, maupun masjid, melainkan dipusatkan di pemakaman pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Nurul Huda. Kebanyakan siswa MTs Nurul Huda adalah para santri di ponpes tersebut.

Istighotsah

di makam

sesepuh

Ponpes Nurul Huda itu rutin dilaksanakan menjelang Unas. Tak cukup itu, doa bersama juga akan terus dilakukan hingga pengumuman kelulusan hasil Unas mendatang. Oleh karena itu, selain berdoa bersama, pihak sekolah juga memberlakukan tambahan jam pelajaran sejak beberapa waktu lalu. “Kami bukan minta kepada orang yang sudah meninggal. Kami mendoakan para

sesepuh

hanya mengharapkan

barokah

agar mereka ikut mendoakan siswa-siswi kami,” kata pembina yayasan setempat, Baihaqi Rahmat, Jumat malam lalu.

Sementara itu di Banyuwangi, seluruh siswa SMAN 1 Glagah mengikuti istighotsah bersama kemarin (20/3). Istighotsah yang diikuti oleh semua siswa kelas XII dan sebagian siswa kelas XI ini dimulai sejak pukul 7.30. Acara yang berlangsung selama satu jam tersebut juga diikuti oleh beberapa guru yang sedang tidak mengajar.

Try Andreas, seorang siswa kelas XI mengaku ikut acara istighotsah untuk ikut mendoakan siswa kelas XII yang akan mengikuti Unas Senin besok. Sebenarnya, dia ada jam pelajaran di kelas pagi itu.”Saya hanya berharap agar mereka lulus semua. Nantinya saya juga akan seperti mereka,” ujarnya.

Citra Noviandari, siswa kelas XII mengatakan, dirinya memiliki sedikit kecemasan dalam menghadapi Unas. Tapi dia optimistis akan lulus, karena selama ini dia sudah berusaha semaksimal mungkin dengan mengikuti program bimbingan. “Ya berdoa saja supaya semua lancar,” tuturnya.

Kepala SMAN 1 Glagah, Imam Suudi mengatakan, istighotsah itu digelar sebagai sebuah tawakal kepada Allah agar lancar saat ujian. Selama ini siswa sudah konsisten mengikuti program bimbingan persiapan Unas. Meski begitu, dia tidak memungkiri adanya perasaan khawatir. “Itu hal yang wajar. Setiap orang tua pasti merasakan hal yang sama,” ujarnya.

16
Des
09

masjid al-jihad “situbondo”

Masjid Al-Jihad. Jalan Basuki Rahmat No. 221.
Situbondo, Jawa Timur. Tel. 0338 – 672079.
Berdiri tepat di pinggir jalan raya antara Banyuwangi – Surabaya, di pusat kota Situbondo masjid megah ini akan gampang anda temukan.
Terletak di sebelah utara jalan raya, selain berfungsi sebagai masjid bangunan nya juga berfungsi sebagai Pimpinan Daerah Muhammadiyah, Pimpinan Daerah Aisyiah, Pusat Dakwah Muhammadiyah Kantor Cabang Situbondo, SD. Muhammadiyah (Program Unggulan) dan pusat kegiatan lainnya.

Masjid Al Jihad, Situbondo. Jawa Timur

Masjid Al Jihad, Situbondo. Jawa Timur

Masjid Al Jihad, Situbondo. Jawa Timur

16
Des
09

ancaman bagi anggota dprd

Ancam Pidanakan Pimpinan DPRD
Polemik Komisi di DPRD Kian Memanas

SITUBONDO – Polemik seputar komisi-komisi di DPRD Situbondo makin memanas. Setelah FKNU mengajukan gugatan ke Pengadilan Negeri (PN), kini pimpinan DPRD terancam dipidanakan. Ancaman pidana muncul jika pimpinan DPRD ngotot membentuk keanggotaan baru di komisi-komisi diluar yang sudah diumumkan pada 01 Oktober 2009 lalu.

Ancaman itu tersirat dalam surat yang dikirimkan Wakil Ketua DPRD Dadang Wigiarto 15 Oktober lalu kepada pimpinan dan Sekretaris DPRD Situbondo. Politisi asal FKNU itu menegaskan dirinya tidak akan bertanggung jawab jika di kemudian hari ada pihak-pihak yang mengkriminalkan keputusan DPRD sebagai tindak pelanggaran pidana korupsi.

Korupsi yang dimaksud Dadang terkait dengan fasilitan dan hak keuangan yang akan diterima para pimpinan komisi yang dinilainya dibentuk dari hasil proses yang melanggar hukum dan/atau menyalahgunakan wewenang yang dapat merugikan keuangan negara.

Dikonfirmasi melalui telepon selulernya Dadang membantah jika surat yang dikirimkan dianggap sebagai ancaman. “Itu surat pemberitahuan saya saja atas nama Wakil Ketua DPRD. Saya tidak mau ikut bertanggung jawab karena saya orang yang tidak menyetujui pembentukan keanggotaan baru pada komisi-komisi di luar yang sudah diumumkan pada 1 Oktober 2009,” terangnya.

Menurut Dadang, dalam suratnya itu dirinya juga sudah meminta kepada pimpinan DPRD agar menahan diri untuk tidak melakukan pemaksanaan sepihak pembentukan keanggotaan baru komisi. “Sebab itu akan menjebak kepada keadaan yang makin rumit. Saya kira, melakukan komunikasi politik, itu jauh lebih penting,” sarannya.

Kata dia, menafikan kekuatan FKNU dan Fraksi Karya Nurani (Fraksi Gabungan Partai Golkar dan Hanura) yang melebihi tiga perempat jumlah anggota DPRD akan menjadi potensi terganggunya penetapan peraturan daerah maupun APBD. “Sejak awal sudah saya sampaikan pentingnya komunikasi politik itu. namun tak ada yang merespon,” terangnya.

Sementara itu, ditundanya pelaksanaan sidang gugatan di Pengadilan Negeri (PN) Situbondo beberapa waktu lalu disesalkan FKNU. Fraksi pemilik kursi terbanyak kedua setelah PPP itu menilai penundaan sidang lebih disebabkan ketidakseriusan Ketua maupun Pimpinan DPRD untuk menyelesaikan masalah polemik pembentukan komisi DPRD.

Ketua FKNU H. Lailul Iham mengungkapkan, sidang perdana gugatan FKNU ditunda karena pimpinan DPRD tidak bisa hadir lantaran harus menghadiri kegiatan lain. “Kita sangat menyesalkan ini. Sebab, kegiatan itu di-setting oleh Pimpinan DPRD,” katanya kepada RaBa, kemarin.

Menurut dia, pemberitahuan sidang sudah diterima oleh para pihak sekitar 16 Oktober lalu bahwa sidang akan digelar pada 21 Oktober. Namun pada 18 Oktober, Ketua DPRD tiba-tiba mengumumkan jika anggota DPRD harus mengikuti work shop selama beberapa hari. “Jadi jadwal dibenturkan dengan pelaksanaan sidang sehingga para pihak tidak bisa hadir. Kenapa tidak menyesuaikan dengan jadwal sidang saja karena pemberitahuanya lebih dulu diterima. Jadi indikasi untuk mengulur-ulur sidang sangat jelas,” tandas politisi asal Asembagus tersebut.

Lailul mengatakan, sidang lebih cepat dilaksanakan sebenarnya akan lebih baik. Sebab, akan cepat mendapat kepastian hukum. Sehingga, DPRD secepatnya bisa kembali berkonsentrasi menjalankan fungsinya. “Jadi kita selaku penggugat sangat menyesalkan penundaan waktu sidang ini,” imbuhnya.

Narwiyoto, salah seorang pimpinan DPRD Situbondo mengungkapkan, secara pribadi dirinya menghargai sikap dan sudat pandang FKNU dan FKN dalam menyikapi soal pendistribusian anggota di komisi-komisi. “Namun saya kira yang jauh lebih panting saat ini adalah bagaimana kita lebih konsentrasi pada tugas untuk kepentingan masyarakat Situbondo,” katanya.

Apalagi, kata politisi PDIP itu, dalam waktu yang tidak lama lagi DPRD Situbondo akan membahas APBD 2010. Itu baru bisa dilakukan jika alat kelengkapan DPRD sudah terbentuk. “Tapi saya optimistis semuanya akan berakhir baik,” ungkapnya.

06
Nov
09

pathek pantai ” situbondo “

Pantai Pathek

Pathek beach atau Pantai Pathek salah satu alternatif wisata pantai yang berada di utara kota situbondo, entah siapa yang menamai pantai ini dengan nama pathek. Dan apa arti dari pathek itu sendiri, sampai tulisan ini dibuat saya tidak tahu, hehehehe. Apa karena dipantai ini setiap malam selalu ditempati para pemuda-pemudi untuk pacaran karena tempatnya yang jauh dari keramaian kota dan cukup remang-remang atau bisa dikatakan gelap untuk sekedar ber……… isilah titik titik disamping dengan jawaban yang menurut anda benar, apalagi pas malam minggu dijamin deh rame (gak percaya buktikan sendiri), kalau datangnya agak telat kira-kira jam 7an malam bisa-bisa gak kebagian tempat untuk pacaran, hehehehe.
Banyak juga atau sebagian besar orang sini yang mendefinisikan pathek dengan kepanjangan pacaran tek-ngetek (yang dalam kamus bahasa madura artinya pacaran secara sembunyi-sembunyi).

Tetapi dibalik semua itu pantai ini memiliki keindahan yang tidak kalah dengan wisata pantai pasir putih, terbukti dengan selalu ramenya dikunjungi oleh wisatawan-wisatan domestik baik itu yang berasal dari situbondo sendiri atau kota-kota sekitar seperti bondowoso, jember ataupun kota lain untuk sekedar bersantai, melihat pemandangan pantai, mandi dipantai ataupun lain sebagainya. Sampai postingan ini dibuat Pemerintah Daerah kayaknya masih melakukan polling untuk menjadikan pantai pathekmenjadi wisata komersil ini seperti pantai pasir putih
untuk melihat foto-foto lain pantai pathek bisa diklik disini

06
Nov
09

marinir bangun sekolah ” situbondo “

Marinir RI-AS Bangun Sekolah Di Situbondo
Selasa, 20 October 2009 03:04 WIB

Marinir Amerika yakni United States Marine Corps (USMC) dan US Navy bergabung dengan Korps Marinir TNI AL, Senin, untuk membangun gedung Sekolah Dasar Negeri (SDN) 05 Banyu Putih, Situbondo, Jawa Timur.

Informasi dari Dispen Korps Marinir menyebutkan kegiatan yang dimulai sejak 17 Oktober 2009 itu merupakan bagian dari rangkaian Latihan Bersama (Latma) Marinir Indonesia dan Amerika ysng bertajuk “Interoperability Field Training Exercise (IIP-FTX) Marine Exercise (Marex) 2009″ yang dipimpin Komandan Latihan Kolonel Marinir Nur Alamsyah.

Guru SDN 5, Juma`ani, mengaku sekolah itu didirikan pada tahun 1983 tanpa memiliki gedung sendiri. Karena itu dia senang dengan bakti sosial yang dilakukan Marinir Indonesia dan Amerika di sekolahnya.

“Tahun 1983, proses belajar mengajar dilakukan di teras rumah Ketua RT 01/02 dukuh Bugeman, Disan, dengan jumlah murid 20 anak, kemudian sekolah kami mendapat tambahan siswa dari Dukuh Pondok Langgar hingga meningkat menjadi 73 siswa,” katanya, didampingi Wakil Kepala Sekolah SDN 05 Banyu Putih, Burawi.

Pada tahun 1985, Dinas Pendidikan Ranting Banyu Putih mendirikan gedung SDN 05 Banyu Putih dengan tiga ruang kelas dan satu ruang guru yang berlantaikan semen.

Tahun 2000 dilakukan renovasi lantai diganti dengan ubin dari beton yang dipakai hingga sekarang. Kini, gedung berukuran 8 x 30 meter yang dibangun di atas areal tanah seluas 1.500 m2 itu menjalani renovasi pada bagian dinding, atap, plafon, kusen dan daun pintu jendela, kunci dan pengaitnya.

Pekerjaan renovasi yang dikomandani Mayor Mar Edi Riyaldi serta Komandan Peleton Lettu Mar Rudik Kuskundarto itu dilakukan secara gotong royong antara Korps Marinir TNI AL dengan Marinir Amerika (USMC) dan US Navy.

Pada hari yang sama, di Puskesmas Banyu Putih juga digelar bakti sosial kesehatan gratis yang dilakukan Marinir Indonesia, USMC, dan US Navy.

Pada hari pertama dari bakti sosial yang digelar selama tiga hari itu tercatat 257 pasien yang datang dengan mayoritas menderita penyakit mata, asam urat, dan asma, meski ada beberapa pasien hernia, kulit, diare, gigi, dan sebagainya.

“Kami sempat mengalami kesulitan berkomunikasi dengan pasien yang hanya mampu berbahasa daerah, sebab panitia hanya menyiapkan bahasa Indonesia dan bahasa Inggris, sehingga kami memanfaatkan seorang teman sebagai penerjemah bahasa Madura,” kata interpreter Letda Mar Bagus Kresno.

Bahkan, ada adegan yang unik, ketika seorang pasien penyakit mata bernama Miskaya (61) dari Desa Curah Temu kecamatan Banyu Putih akan diperiksa dokter mata.

“Saat diperintahkan untuk membaca huruf mulai dari huruf kecil hingga huruf besar selalu menjawab tidak bisa, lalu setelah ditanya kepada teman saya itu, ternyata seorang nenek yang telah memiliki lima cucu itu memang buta huruf,” katanya, tersenyum.

06
Nov
09

jenglot ” situbondo “

Jenglot Hebohkan Warga Situbondo
Berbulan-bulan warga resah dengan kematian misterius satu per satu ternak mereka.
Selasa, 27 Oktober 2009, 11:33 WIB
Jenglot hebohkan Situbondo, Jawa Timur (ANTV)
Geger, Warga Tangkap Jenglot Hidup-Hidup

- Warga Desa Kesambi, Kecamatan Kepongan, Situbondo, Jawa Timur, dihebohkan penangkapan jenglot, ‘monster’ hidup penghisap darah yang selama berbulan-bulan meresahkan warga.

Penangkapan jenglot itu berawal dari matinya satu per satu hewan ternak milik warga. Kejadian ini berlangsung berbulan-bulan. Di setiap bangkai ternak yang mati itu biasanya terlihat tanda bekas gigitan di bagian leher. Warga mengira tanda itu bekas gigitan kelelawar.

Kepada tim Topik dari antv, salah satu warga, Junadi, mengaku kehilangan lima ekor kambing. “Semua kasusnya sama, mati dengan luka di leher, lehernya keluar darah seperti dihisap sampai meninggal,” kata dia.

Namun  seorang ustad di desa tersebut tidak begitu saja percaya kematian ternak-ternak milik warga akibat gigitan kelelawar. Apalagi ia hampir setiap malam mendengar bunyi-bunyi tidak biasa yang kerap melintas di atap rumah warga.

Berbekal doa dan peralatan  khusus, serta ritual tertentu, sang ustad dibantu warga sekitar menangkap sosok yang dipercaya sebaai jenglot. Secara fisik jenglot mirip monster hidup yang badannya seperti badan  manusia, ikan atau ular. Panjangnya sekitar 15 cm, memiliki gigi taring dan kuku anjang. Badannya juga keras seperti fosil dengan rambut kusut panjang. Jenglot dipercaya kerap hidup di bawah tanah, atap rumah atau di batang pohon tua.

02
Nov
09

pasir putih”situbondo”

Pasir Putih Situbondo

pasir-putih-situbondoPantai Pasir Putih Situbondo, sesuai dengan namanya maka pantai ini terletak di Kabupaten situbondo Jatim. Sangatlah dikenal sebagai salah satu andalan wisata di kabupaten tersebut dan juga di provinsi jatim karena hamparan pasirnya yang putih bersih. Disamping itu pantai ini mempunyai morfologi yang bisa dibilang unik. Dengan topografinya yang melengkung menghadap ke laut dengan latar belakang hutan maka terpandang gugusan panorama yang sangat indah. Bilamana kita memandang ke arah utara, kita dapat melihat luasnya laut utara Jawa dengan garis putih di pinggir pantai, dan bila kita memandang di belakangnya, rimbunan hutan menyuguhkan kesejukan tersendiri
Bagi mata.

Pantai Pasir Putih Situbondo letaknya sangat strategis, yakni di pinggiran jalan utama Surabaya-Banyuwangi. Bagi wisatawan yang ingin menuju ke Bali dengan perjalanan darat dari Surabaya, atau bagi yang menuju kearah Gunung Bromo dari Banyuwangi, biasanya menyempatkan diri untuk mampir beristirahat dan menyaksikan keindahan panorama yang disuguhkan dan juga menikmati eloknya matahari terbenam.

Keistimewaan Pantai Pasir Putih Situbondo

Kita dapat melakukan berbagai macam olahraga laut seperti berenang, menyelam, maupun berselancar di pantai pasir putih ini. Bilamana anda enggan berenang, anda bisa menaiki perahu untuk berlayar dan menikmati pemandangan bawah laut.

Para nelayan biasanya pada bulan Oktober mengadakan upacara Petik Laut, yaitu melarung makanan, jajanan, dan kepala lembu ke tengah laut sebagai upaya memohon berkah hasil laut dari Tuhan. Pada saat upacara, biasanya juga dipentaskan musik Gandrung, yakni musik tradisional yang populer di Banyuwangi dan daerah sekitarnya.

Lokasi pantai Pasir Putih Situbondo

Pantai ini berada di Kecamatan Bungatan, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur.

Akses menuju Pasir Putih Situbondo

Akses menuju pantai pasir putih ini sangatlah mudah karena posisinya di pinggir jalan utama Surabaya Banyuwangi dengan jarak kurang lebih 170an km dari Surabaya atau sekitar 4 jam perjalanan menggunakan bus umum dari terminal Bungurasih Surabaya. Sementara dari kota Situbondo, Pantai Pasir Putih berjarak kurang lebih 21an km atau memakan waktu tempuh sekitar 30 menit dari pusat Kota Situbondo.

02
Nov
09

pembakaran”situbondo”

SEJAK SENIN PEKAN ini, karyawan Pengadilan Negeri (PN) Situbondo, Jawa Timur, punya kantor darurat. Untuk sementara, rumah dinas hakim ketua dijadikan kantor. Soalnya, gedung PN Situbondo sudah musnah dibakar massa pada Kamis pekan lalu. Bersama gedung PN ini, hancur pula puluhan gedung gereja, sekolah, dan pertokoan di Situbondo, Panarukan, Besuki, dan Asembagus. Jumlahnya 27 Gedung,” ujar Pangdam Brawijaya, Mayjen Imam Oetomo, pada Abdul Manan dari D&R.

Peristiwa Kamis kelabu yang disampaikan langsung oleh menteri sekretaris negara, Moerdiono, itu amat disesalkan pemerintah. Insiden itu terjadi setelah adanya sidang pelecehan agama Islam oleh seorang penganut Islam bernama Saleh. Kemarahan massa yang berbau SARA itu menambah daftar pembakaran Gereja di Jawa Timur yang pernah terjadi di Surabaya dan Pare, Kediri, bulan Juni lalu. Kronologis kerusuhan tersebut sebagai berikut:

Peta Situbondo

12 September 1996:
Sidang pengadilan Saleh, 28 tahun, yang dianggap menghina agama Islam dan melanggar Pasal 156 (a) Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) dimulai di PN Situbondo. Saleh dilaporkan K.H. Achmad Zaini, pimpinan pondok Nurul Hikam, yang juga tetangga Saleh di Kecamatan Kapongan, Situbondo. Kepada K.H. Zaini, Saleh menyatakan Allah adalah mahluk biasa dan K.H. As’ad Syamsul Arifin, pendiri pondok pesantren Salafiyah As’syafiiyah, Situbondo, dan ulama Nahdlatul Ulama yang amat dihormati, meninggal tidak sempurna, atau dalam bahasa Madura disebut mate takacer.

3 Oktober 1996:
Dalam sidang keempat kasus itu, Saleh membantah tuduhan menodai agama Islam. “Saya datang hanya untuk musyawarah dan saya ingin tahu tanggapan Kiai Zaini, apakah pendapat saya betul atau tidak,” kata lulusan SMAN II Situbondo itu. Massa yang antara lain datang dari Besuki, Panarukan, dan Asembagus yang mencapai 1.000 orang itu marah. Hadir pula dalam sidang itu Ny. Aisyah, putri Kiai As’ad yang duduk dengan kaki diangkat ke kursi. Aisyah, yang biasa dipanggil Nisa itu, tampak marah dan meremas-remas rokok Gudang Garam, serta menyalakan korek api sampai habis satu kotak. Ia tak menggubris, meskipun sudah diperingatkan petugas.

Seusai sidang teriakan “Bunuh Saleh” pun terdengar. Massa berusaha mengeroyok Saleh, tapi diamankan puluhan petugas dengan memasukkannya ke tahanan PN Situbondo. Massa yang sudah kalap merusak pintu dan jendela tahanan. Sekitar 10 orang membongkar genteng, jendela plafon, dan berhasil menghajar Saleh dalam selnya. Tindakan ini bisa dihentikan dengan bantuan Ny. Aisyah. Tapi, massa yang ada di luar tahanan tak mau beranjak. Mereka menuntut Saleh dihukum mati dan mereka yang akan mengeksekusinya. Teriakan Kapolres Situbondo, Letkol Endro Agung, sudah tak didengar. Baru setelah Ny. Aisyah berteriak-teriak lewat megaphone mengajak pulang, massa pun bubar. Saleh diantar ke rutan dalam satu mobil bersama Ny. Aisyah. “Saya sudah tidak dendam pada Saleh,” kata Nisa pada D&R.

1O oktober 1996:
Sidang Saleh yang dijaga oleh 100 orang aparat dari komando distrik militer (kodim) sudah sampai pada tuntutan jaksa. Hadir pula ribuan pengunjung dari luar kota. Mayoritas adalah Madura pendalungan (pendatang) yang beragama Islam dan jemaah NU. Kabar akan adanya sidang Saleh mereka dengar dari mulut ke mulut. Tapi ada sumber yang menyebutkan bahwa K.H. Zaini yang telah memfotokopi undangan dari PN itu. Selama sidang, massa tetap tenang. Jaksa menuntut Saleh hukuman 5 tahun penjara, sesuai dengan Pasal 156 (a) KUHP tentang Penodaan Agama.

Tindakan brutal baru terjadi seusai sidang. Sebagian massa yang tak puas dengan tuntutan jaksa, dan ingin Saleh dihukum mati, mulai melempari gedung pengadilan dengan batu. Suasana jadi kacau. Seorang petugas Kodim terkena lemparan batu. Teriakan peringatan Komandan Kodim, Letkol Imam Prawoto, tidak digubris. Batu-batu terus berjatuhan, setelah ada aparat yang membalas aksi massa itu. Karena terdesak, aparat masuk ke dalam gedung. Massa yang sudah kalap terus mengamuk. Aparat dan para hakim, termasuk Erman Tanri, ketua PN Situbondo yang keningnya luka kena lemparan batu, melarikan diri lewat sungai di belakang gedung PN. Saleh pun diselamatkan ke arah belakang.

Entah siapa yang menyulut, ada massa yang berteriak bahwa Saleh dilarikan ke Gereja Bukit Sion yang terletak sekitar 200 meter sebelah barat gedung PN. Isu bahwa hakim yang mengadili ada yang beragama Kristen pun merebak. “Padahal, 3 hakim dan jaksa yang mengadili Saleh, semua beragama Islam,” kata Erman Tanri. Massa yang marah kemudian membakar mobil di depan gedung PN milik kejaksaan dan anggota Polres, serta sebuah sepeda motor. Pesawat televisi pun dibakar. Akhirnya, gedung PN pun membara. Massa pun bergerak ke Gereja Bukit Sion. Berbekal bensin dari pom bensin di depan gereja dan dari kendaraan-kendaraan bermotor yang dihentikan, mereka membakar gereja setelah lebih dulu menguras isinya.

Ribuan massa yang belum puas dengan aksinya ini pun lalu mencari sasaran lainnya. Gereja Protestan Indonesia Barat (GPIB) yang terletak di sebelah Polres akan jadi sasaran berikutnya. Tapi pembakaran gagal karena dicegah oleh petugas anti huru-hara. Hanya pagar dan papan nama gereja saja yang sempat dirusak.

Karena diblokir, massa pun kemudian bergerak ke Jalan W.R. Supratmam. Mereka membakar bangunan SD dan SMP Katholik dan Gereja Maria Bintang Samudra. Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) dan gedung TK/SD/SMP Kristen Imanuel jadi sasaran berikutnya. “Untung murid-murid sudah kami pulangkan. Kalau tidak, wah, ngeri saya membayangkannya.” kata seorang guru SMPK.

Massa bergerak lagi ke arah timur. Gereja Pantekosta dan Gereja Bethel Injil Sepenuh (GBIS) di Jalan A. Yani turut pula menjadi sasaran amukan massa. Tak hanya gereja dan bangunan sekolah Kristen saja yang diincar, rumah makan Malang dan pertokoan Tanjungsari pun tak luput dari perusakan.

Malapetaka juga terjadi pada sasaran berikutnya, yaitu rumah pendeta dan Gereja Pantekosta Pusat Surabaya (GPPS) Bahtera Kasih. Di dalam rumah itu tinggal pendeta Ishak Kristian, 71 tahun, isterinya Ribka Lena, 68 tahun, dan anaknya Elisabeth Kristian 23 tahun. Juga keponakannya, Nova Samuel dan Rita Karyawati, yang sedang magang pendeta di sana. Mereka tak berani keluar dan akhirnya terbakar di dalam rumah.

Menurut Sanidin, ketua RT O3/O03 Kampung Mimba’an, Desa Panji, yang rumahnya bersebelahan dengan GPPS, ketika gereja itu dibakar masyarakat tidak ada yang bisa melakukan pertolongan. Bahkan, ketika Sanidin berusaha menyiramkan air ke api yang hampir membakar rumahnya, ia di marahi massa. Tapi, Sanidin berkilah bahwa ia menyirami rumahnya sendiri. Sebenarnya, ketika GPPS terbakar, ada 10 orang di dalamnya. Namun, dua pembantu bisa menyelamatkan diri dengan naik ke atap dan meluncur ke rumah tetangga lewat pipa. Walaupun salah satu lengan pembantu ini terbakar tapi jiwanya selamat. Sanidin menduga pendeta Ishak yang dikenal sebagai orang baik semasa hidupnya itu, tidak bisa menyelamatkan diri karena berusaha melindungi isterinya yang lumpuh karena rematik.

Saat itu tak ada seorang petugas pun yang bisa mencegah kebrutalan massa. Massa malah ikut mengajak para pelajar SMEA yang letaknya di depan GPPS ini untuk membakar gereja. “Kalau kalian santri, ayo, ikut bakar gereja,” kata seorang diantaranya. Tapi, para pelajar itu tak menurutinya.

Sanidin tidak tahu massa itu berasal dari mana. “Saya tak kenal mereka,” ujarnya. Setelah membakar gereja, sebagian massa naik ke 3 truk menuju ke arah timur. Mereka diduga menuju Asembagus. Lainnya menyebar ke JalanArgopuro dan membakar salah satu rumah pendeta yang juga dijadikan gereja. Massa masih bergerak menuju pertokoan Mimbaan Baru di depan terminal Situbondo. Selain rumah bilyar, mereka juga merusak gedung bioskop.

Ketika merusak pertokoan itulah, satu kompi senapan batalyon infantri 514 datang. Petugas langsung memukuli dan mengangkut orang yang dianggap sebagai biang kerusuhan. Tindakan para petugas itu membuat massa lari tunggang langgang. Sebagian lari ke Gang Karisma, dan masih sempat-sempatnya membakar rumah anak yatim di bawah asuhan Yayasan Buah Hati. Sebagian massa lainnya lari ke Jalan Jaksa Agung Suprapto dan di sana mereka membakar TK Santa Theresia dan sebuah susteran. Tragedi Situbondo itu baru benar-benar berhenti pada pukul 15.00.

Namun, aksi massa menjalar ke daerah sekitarnya. Di Asembagus dan Besuki, yang jaraknya lebih dari 30 kilometer ke arah timur Situbondo, mereka membakar 3 gereja, sedang di Kecamatan Banyuputih ada 6 gereja dan sebuah rumah pendeta yang dibumihanguskan. Massa juga bergerak ke arah barat. Sejak pukul 15.00 sampai Magrib, massa beraksi di Panarukan, 6 kilometer dari Situbondo dan membakar 2 gereja. Dari sana, mereka bergerak ke Besuki yang jaraknya hampir 30 kilometer dari Situbondo dan membakar 2 gereja, sebuah klenteng, serta merusak sebuah toko di alun-alun. Aksi bakar hangus ini baru benar-benar reda pada pukul 23.OO.

Aparat keamanan dari lokasi seputar kerusuhan baru berdatangan ke Situbondo menjelang Magrib. Malam itu 120 orang ditangkap dan diseleksi menjadi 46 orang. Dari jumlah sekian, 11 diantaranya pelajar dari STM, SMA, dan SMEA Ibrahimi yang ketua yayasannya dipegang oleh K.H. Fawaid, salah satu putra K.H. As’ad. “Kami pengurus sekolah merasa malu pada masyarakat dan pengasuh pondok, tapi mereka hanya ikut-ikutan,” kata seorang guru pada D&R. Selain pelajar, juga ditahan sejumlah santri dari pondok Wali Songo, Mimbaan dan “anjal” alias anak jalanan, sebuah perkumpulan bekas preman yang dibina oleh K.H. Cholil, juga salah satu putra K.H. As’ad.

Malam itu diadakan pertemuan antara Kasdam Brawijaya Brigjen Muchdi. kapolwil Besuki, Danrem Malang, Muspida Situbondo, dan para ulama. Kepala staf daerah militer meminta ulama untuk menenangkan suasana. Pertemuan serupa diadakan oleh Pangdam Imam Oetomo pada keesokan harinya. “Semua pelaku akan diusut tuntas,” janji Imam Oetomo




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.